Berbea dengan adaptasi morfologi yang tampakdari luar diri
makhluk hidup, adaptasi fisiologi tidka begitu tampak sehingga sulit
mengenalinya. Hal ini karena berkaitan dengan fungsi organ tubuh bagian dalam.
Beberapa contoh adaptasi fisiologi pada makhluk hidup sebagai berikut.
Adaptasi terhadap kadar
oksigen
Oksigen merupakan zat yang sangat diperlukan makhluk hidup
untuk pernafasan. Oleh karena itu, perubahan kadar zat tersebut di lingkungan
akan sangat mempengaruhi aktivitas organ tubuh.
Di berbagai tempat dengan ketinggian yang berbeda, kadar
oksigennya akan berbeda. Kadar oksigen di daratan rendah cukup tinggi. Makin
tinggi suatttu tempat, kadar oksigeeen nya semakin rendah. Apa yang akan
terjadi, jika seorang berpindah dari daratan rendah ke daratan tinggi atau
sebaliknya ?
Ingatlah bahwa oksigen dari alat pernafasan akan diangkut ke
sel-sel tubuh oleh sel darah merah (eritrosit). Di dataran rendah kadar oksigen
udara cukup tinggi sehingga absorbs oksigen oleh pembuluh darah kapiler dapat
berlangsung secara efektif dengan jumlah erotrosit yang normal. Apa yang akan
terjadi apabila jumlah eritrositnya normal pindah ke dataran tinggi yang kadar
oksigennya rendah ? karena yang bertugas mengakut oksigen di dalam tubuh adalah
eritrosit, tubuh akan beradaptasi secara fisiologis dengan meningkatkan jumlah
eritrosit (sel darah merah). Dengan demikian, pengikatan oksigen di dalam alat
pernafasan dapat berjalan efektif.
Adaptasi pada system
pencernaan
Pernakah kam melihat saluran pencernaan herbivore, misalnya
sapi ? saluran pencernaan nya herbivore panjang dan menghasilkan enzim selulase
yang dapat menguraikan selulosa. Dengan adanya selulose, pencernaan makanan
yang berupa tumbuhan menjadi lebih mudah. Ingatlah, sel tumbuhan mempunyai
dinding yang kuat, yang sulit untuk dicerna hewan.
Adaptasi fisiologi pada system pencernaan juga terjadi pada
cacaing Teredo navalis (hewan semacam kerang pengebor). Hewan ini sering
disebut cacing kapal karena perusak kayu galangan kapal. Teredo navalis muda
yang baru menetas mempunyai sepasang cangkok. Pada tepi cangkok terdapat gigi
mirip kikir yang berfungsi mengebor kayu. Setelah dewasa, Teredo navalis
menjadi makhluk mirip cacing. Pada saluran pencernaan nya terdapat kelenjar
yang mampu menghasilkan enzim selulase. Dengan ezim itulah kayukayu yang telah
dilumatkan dengan gigi kiirnya dapat dicernakan.
Adaptasi ikan terhadap
salinitas (kadar garam)
Di alam terdapat dua macam perairan yang berbeda kadar
garamnya, yaitu perairan laut dan erairan tawar. Air laut mempunyai kadar garam
yang lebih tinggi daripada air tawar. Ikan yang hidup di air laut dan air tawar
masing-masing memiliki cara adaptasi yang khusus. Ikan air laut tidak dapat
bertahan hidup, jika dipindahkan ke air tawar, demikian pula sebaliknya.
Ikan
air laut mempunyai cairan tubuh berkadar garam lebih rendah dibandingkan kadar
garam di lingkungannya. Ikan tersebut beradaptasi dengan cara selalu minum dan
mengeluarkan urine sangat sedikit. Hal itu bertujuan untuk menjaga jumlah
cairan yang berada di sel-sel tubuhnya. Garam yang masuk bersama air akan
dikeluarkan secara aktif melalui insang. Tetekanan osmosis sel-sel tubuh ikan
air tawar lebih tinggi dibandingkan tekanan osmosis air di lingkungannya,
karena kadar garam sel tubuh ikan air tawar lebih tinggi daripada kadar garam
dilingkungannya. Menurut hokum osmosis, larutan akan berpindah dari yang
bertekanan osmosis tinggi (pekat). Dengan demikian banyak air yang masuk ke
tubuh ikan melalui sel-sel tubuh ikan. Untuk menjaga agar cairan tubuhnya tetap
seimbang, ikan tersebut beradaptasi dengan cara sedikit minum dan mengeluarkan
banyak urine.
0 comments:
Post a Comment